Mengajarkan etika anak saat kumpul keluarga penting untuk melatih sopan santun dan empati. Berikut 15 hal yang perlu diajarkan orang tua menurut psikolog.
Selain tentang sopan santun, mengajarkan etika anak saat kumpul keluarga juga penting untuk mengasah kemampuan sosial dan empati, agar anak lebih bisa bertoleransi, menghargai orang lain dan beradaptasi dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Hal ini membawa dampak yang besar dalam pembentukan karakter anak, yang sering kali terbawa hingga anak tumbuh dewasa.
Menurut Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga Ruang Tumbuh, Hesty Novitasary, M.Psi, Psikologberikut beberapa etika anak yang penting diajarkan saat kumpul keluarga besar.
BACA JUGA: 10 Aktivitas Seru untuk Anak, saat Libur Lebaran di Rumah Saja!
15 Etika Anak saat Kumpul Keluarga Besar

Foto: Freepik
Momen kumpul keluarga besar sering jadi ajang seru bagi anak untuk bertemu sepupu dan kerabat yang jarang ditemui. Namun, di balik keseruannya, situasi ini juga bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan etika anak dan sopan santun dalam berinteraksi. Dengan memahami aturan sederhana sejak dini, anak dapat belajar menghargai orang lain, menjaga sikap, dan lebih percaya diri saat berada di lingkungan sosial yang lebih luas.
Berikut 15 etika dasar anak yang harus mommies ajarkan.
1. Mengucapkan Salam dan Menyapa
Ajarkan anak untuk menyapa anggota keluarga lain saat datang misalnya mengucapkan salam, berjabat tangan dengan penuh hormat, serta menyebut sapaan kekerabatan seperti “Tante” atau “Eyang”. Kebiasaan ini membantu anak belajar mengenali relasi dalam keluarga sekaligus menumbuhkan sopan santun dalam berinteraksi.
2. Mendengarkan saat Orang Lain Bicara
Etika dasar lain adalah membiasakan anak untuk mendengarkan orang lain bicara, serta tidak sibuk bermain gadget saat percakapan berlangsung. Ingatkan anak juga untuk tidak berteriak atau berbicara dengan suara terlalu keras. Berlatihlah sebelumnya, agar anak memahami penggunaan volume suara yang tepat saat berada di dalam dan di luar ruangan.
3. Menggunakan Kata-kata yang Sopan
Biasakan anak menggunakan kata “tolong”, “terima kasih”, “maaf”, sebagai bagian dari sopan santun saat kumpul keluarga besar.
4. Menghargai Perbedaan
Saat kumpul keluarga besar, sering terlihat perbedaan usia, gaya pakaian, atau kebiasaan. Ajarkan anak bahwa tidak semua orang sama dengan dirinya, dan hargai perbedaan tersebut, jangan mengejek atau memberi komentar negatif.
5. Hormati Batasan
Ingatkan bahwa anak boleh menolak dipeluk, dicium, atau bentuk kontak fisik tertentu sebagai bagian dari batasan pribadi. Sebagai alternatif, anak dapat menyapa dengan berjabat tangan dengan sedikit menunduk, cium tangan, “tos”, atau bentuk sapaan lain yang nyaman baginya, agar anak paham batasan dengan tetap menjaga etika dasar.
6. Berbagi dan Bergiliran
Saat bermain dengan sepupu atau saudara, ajarkan anak untuk berbagi mainan dan bergiliran, untuk melatih kerja sama dan empati anak. Jika dipinjamkan barang, jangan lupa rapikan dan kembalikan saat akan pulang.
7. Membantu Saudara
Ajak anak untuk membantu tuan rumah misalnya mengambilkan piring, membuang sampah dan sebagainya saat kumpul keluarga besar. Selain melatih sopan santun, juga mengasah tanggung jawab dan kepedulian anak.
8. Mengelola Rasa Bosan
Sebagai anak yang lahir di “generasi gadget”, ada tantangan tersendiri bagi mereka untuk menikmati acara kumpul keluarga besar. Bantu anak menyiapkan mainan atau buku aktivitas untuk dibawa saat kumpul keluarga agar anak tidak mudah mengeluh secara berlebihan dan tetap mampu menyesuaikan diri.
9. Makan secukupnya
Hal penting lain untuk diajarkan adalah mengambil makanan secukupnya, tidak memilih-milih makanan dengan komentar buruk, dan duduk rapi saat makan. Jika sudah kenyang atau alergi makanan tertentu, sampaikan dengan sopan misalnya “Terima kasih, aku sudah kenyang”.

Foto: Freepik
10. Tidak Berkomentar Negatif
Sopan santun berikutnya adalah tidak mengucapkan hal-hal yang bersifat sensitif, misalnya mengatakan “rumahnya kecil”, “makanannya tidak enak”, atau “badan Tante gemuk”. Melalui arahan dari orang tua, anak dapat belajar memilih kata-kata yang lebih tepat sehingga mampu menjaga perasaan orang lain dan berkomunikasi dengan lebih santun.
11. Tidak Masuk Kamar Orang Lain Tanpa Izin
Tidak masuk kamar orang lain dan tidak membuka lemari sembarangan tanpa izin saat bertamu atau kumpul keluarga besar juga menjadi salah satu etika dasar yang bisa diajarkan ke anak.
12. Tidak Menggunakan Barang Orang Lain Tanpa Izin
Saat kumpul keluarga besar, anak mungkin menemukan barang yang menarik untuk dimainkan atau disimpan. Ingatkan anak untuk tidak menggunakan atau menyimpan barang orang lain tanpa izin pemiliknya.
13. Menjaga kebersihan dan barang milik orang lain
Penting juga untuk diajarkan menjaga kebersihan serta menghargai barang milik orang lain, seperti melepas alas kaki jika diminta, tidak melompat di sofa, dan tidak meninggalkan sampah di meja atau kursi.
14. Tidak Berlarian di Ruangan
Anak perlu belajar menjaga ketertiban saat kumpul keluarga dengan tidak berlari-lari atau membuat kekacauan yang dapat mengganggu acara.
15. Berpamitan dan Mengucapkan Terima Kasih
Biasakan anak untuk berpamitan serta mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan anggota keluarga lain yang ditemui saat berkumpul keluarga besar.
Tips dari Psikolog agar Anak Lebih Siap saat Kumpul Keluarga
Hesty juga memberikan tips bagi orang tua untuk melakukan “briefing singkat” dengan anak sebelum bertamu atau menghadiri pertemuan keluarga besar. Orang tua dapat mendiskusikan kembali aturan sederhana serta berlatih etika dasar jika diperlukan, karena anak biasanya lebih mudah memahami ketika sudah diingatkan dan memiliki kesempatan berlatih sebelumnya.
Selain itu, penting bagi orang tua untuk menerapkan sopan santun dan etika dasar dalam kehidupan sehari-hari sebagai contoh bagi anak. Melalui teladan yang dilakukan secara konsisten, maka anak akan lebih mudah membentuk kebiasaan dan perilaku yang baik dalam berinteraksi.
BACA JUGA: 15 Pertanyaan Menyebalkan saat Lebaran yang Sering Muncul dan Cara Menjawabnya dengan Santai
Sampul: Freepik
[matched_content]
Pakar PBN
Jaringan Blog Pribadi (PBN) adalah kumpulan situs web yang dikendalikan oleh satu individu atau organisasi dan digunakan terutama untuk membangun tautan balik ke “situs uang” guna memengaruhi peringkatnya di mesin pencari seperti Google. Ide inti di balik PBN didasarkan pada pentingnya backlink dalam algoritma peringkat Google. Karena Google memandang tautan balik sebagai sinyal otoritas dan kepercayaan, beberapa pemilik situs web berupaya membuat sinyal ini secara artifisial melalui jaringan situs yang terkontrol. Dalam pengaturan PBN pada umumnya, pemilik memperoleh domain kedaluwarsa atau lama yang sudah memiliki otoritas, tautan balik, dan riwayat. Domain-domain ini dibangun kembali dengan konten baru dan dihosting secara terpisah, sering kali menggunakan alamat IP, penyedia hosting, tema, dan detail kepemilikan yang berbeda untuk membuatnya tampak tidak terkait. Dalam konten yang dipublikasikan di situs-situs ini, tautan ditempatkan secara strategis yang mengarah ke situs web utama yang ingin diberi peringkat lebih tinggi oleh pemiliknya. Dengan melakukan ini, pemilik mencoba meneruskan ekuitas tautan (juga dikenal sebagai “jus tautan”) dari situs PBN ke situs web target. Tujuan PBN adalah untuk memberikan kesan bahwa situs web target secara alami mendapatkan tautan dari berbagai sumber independen. Jika dilakukan secara efektif, hal ini dapat meningkatkan peringkat kata kunci untuk sementara, meningkatkan visibilitas organik, dan mengarahkan lebih banyak lalu lintas dari hasil pencarian.